Brokat Rijek

Masalah Mekanis dan Mesin Rajut
Ketegangan jarum mesin bordir komputer yang tidak stabil kerap menyebabkan benang atas atau benang bawah putus di tengah siklus pola, meninggalkan lubang atau sambungan motif yang tidak presisi.
Jarum mesin yang tumpul atau sedikit bengkok dapat mengait dan merusak serat jaring dasar (tulle), menimbulkan bolong kecil atau serat melar (pull threads) yang langsung menggagalkan standar kelayakan (quality control).
Kegagalan sinkronisasi modul otomatisasi saat membuat motif rumit (seperti corded lace atau tepian bordir/pinggiran) membuat motif tampak terpotong separuh atau melenceng dari tata letak desain.
Pencelupan Warna dan Reaksi Kimia
Ketidakmerataan suhu dan durasi dalam bejana pewarnaan sering menghasilkan shading atau belang, di mana satu gulungan kain memiliki intensitas warna yang berbeda di bagian tepi dan tengah.
Bahan brokat sering kali tersusun dari campuran serat (misalnya poliester pada jaring dan nilon/rayon pada sulaman), yang memiliki daya serap zat warna berbeda; ketidakseimbangan formula kimia dapat menyebabkan warna serat sulaman tidak mengikat sempurna atau tampak pudar.
Residu pelumas mesin atau noda minyak yang menetes saat kain berjalan di ban konveyor dapat meninggalkan flek permanen yang tidak hilang saat proses pencucian akhir.
Penyortiran Quality Control (QC) Pabrik tekstil umumnya menerapkan standar kelayakan berjenjang (Grade A, B, hingga C). Cacat minor seperti benang loncat sepanjang beberapa centimeter atau tarikan serat lokal sering kali langsung menurunkan status kain menjadi Grade B atau rijek pabrik, karena toko kain premium dan rumah mode menuntut kesempurnaan motif yang konsisten di seluruh panjang kain.

